Orang-Orang Bloomington: Review Buku

IMG_20160713_172532_HDR

Perilaku membenci kebahagiaan orang lain (atau bahasa gaulnya haters) dan selalu ingin tahu urusan semua orang (kepo) sepertinya sudah tidak asing di budaya masyarakat yang tak bisa lepas dari sosial media.

Tapi bagaimana jika seseorang memiliki sifat hater dan kepo pada masa lampau, saat informasi tentang orang lain tidak mudah didapatkan? Dalam Orang-orang Bloomington, perilaku tersebut menjadi tema dengan setting waktu tahun 70-an di sebuah kota kecil di Amerika Serikat.

Penceritaan dari sudut pandang pertama dan deskripsi soal bagaimana sepi dan membosankannya hidup di Bloomington, Negara bagian Indiana, Amerika Serikat, semakin menambah nuansa kelam dalam kumpulan cerita karya Budi Darma ini.

Sebenarnya perilaku ingin tau urusan orang lain yang diceritakan dalam buku ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi sekarang, hanya media untuk mencari tahunya tentu berbeda. Saat ini kita bisa mudah saja stalking akun social media seseorang, untuk tahu bagaimana kesehariannya. Tapi bayangkan jika di tahun 70-an saat internet saja belum ada. Tentunya kita mau tidak mau mencoba cara-cara lama yang pasti akan memakan waktu, seperti mencari nomor telpon orang yang ingin dikepoin di yellow pages, mencari informasi dari tetangga dan temannya, bahkan menyurati dia dengan nama pengirim fiktif.

Namun menurut saya, jeda antara penemuan atau pengumpulan informasi ini akan membuat lebih menarik, dan menambah unsur misterius. Saya jadi terbayang jika ada orang yang tidak memiliki sosial media dan saya sangat penasaran dengan orang itu, tentunya akan membuat pencarian informasi menjadi lebih seru.

Kembali ke isi buku ini, saya akan mulai dengan cerita yang paling saya suka berjudul Yorrick. Kisahnya tentang cinta yang tak terbalas dan bagaimana seseorang bisa begitu benci pada kebahagiaan orang lain.

Di sini saya dibuat gemas oleh tokoh utama ‘Saya’ (semua cerita dalam buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama) yang sangat berlebihan dalam upayanya mengesankan orang lain, terutama wanita yang ditaksirnya.
Ada satu kutipan yang saya suka, tentang tidak terlalu memaksakan diri dalam mencintai seseorang:
“Andaikata saya tidak memaksa diri saya sendiri untuk jatuh cinta, atau andaikata saya tidak mencintai mereka atau salah seorang di antara mereka, mungkin saya dapat mendekati mereka dengan gampang.”
Benang merah cerita-cerita dalam buku ini adalah seseorang yang merasa kesepian dan bosan ketika tinggal di lingkungan asing, sehingga dia mencari kesibukan dengan mengurusi tetangga-tetangganya. Mungkin ini memang yang dirasakan oleh Budi Darma, karena cerita-cerita ini sebagian besar ia tulis saat berkuliah di negeri Paman Sam. Ada cerita soal  “Laki-laki Tua Tanpa Nama”, yaitu orang tua aneh yang membawa pistol dan tiga janda tua yang tampak acuh.
Kemudian “Joshua Karabish” bercerita tentang seorang teman satu flat yang pandai menulis puisi namun mengidap penyakit aneh, “Keluarga M”, tentang seseorang yang terganggu akan kehadiran satu keluarga dalam sebuah apartemen, “Orez”, anak kecil cacat dan ayahnya yang bingung terhadap perasaannya pada anak tersebut, “Ny. Elberhart” — lagi-lagi tentang seorang janda tua, dan puisi serta hubungannya yang tertutup dengan tetangga-tetangganya.

“Charles Lebourne” merupakan cerita penutup yang menurut saya paling aneh dan absurd, namun bisa terpatri di pikiran saya dalam waktu yang lama. Saya rasa ini pas sebagai penutup, karena mengisahkan hubungan rumit antara seorang anak yang menemukan ayahnya yang telah menelantarkan dia sejak lahir. Yang aneh adalah, anak ini mau-maunya merawat ayahnya yang sudah tua tersebut dan sering berulah dengan sengaja. Mungkin di sini si anak terjebak, karena dia sudah lama ingin merasakan bagaimana rasanya punya ayah, namun di sisi lain dia juga membencinya.

Dalam pengantarnya, dijelaskan bahwa Budi Darma terinspirasi menulis kumpulan cerita ini setelah membaca puisi karya Shelley, Ode to the west end. Salah satu bait yang sangat kuat adalah: If Winter comes, can spring be far behind?

“Adalah pertanda berupa pertanyaan, bahwa semua individu akan terjerat oleh usia tua atau ketimpangan lain, dan inilah susatu keniscayaan. Apakah usia tua dan ketimpangan lain, pada gilirannya, akan mendatangkan masa muda, kehidupan yang penuh gairah, inilah pertanyaannya. Secara asumtif, jawabannya: ya, sebab siklus kehidupan adalah suatu keniscayaan pula,” jelas Budi.

Ceritanya mungkin terlalu panjang, dengan tebal hampir 300 halaman namun hanya memuat 7 cerita. Berarti satu cerita bisa 40 halaman lebih. Sementara yang saya tahu cerpen biasanya sekitar 20 halaman.

Saya kurang suka beberapa pengulangan yang tidak perlu di cerita-cerita dalam buku ini, menurut saya ada beberapa bagian yang tidak perlu yang jika dihilangkan pun tidak akan mengubah jalan cerita.

Selain itu, sayang cerpen-cerpen di buku ini hampir sebagian besar naratif dan minim dialog, padahal menurut saya jika porsi dialog dibuat seimbang dengan naratif akan lebih menghidupkan perasaan dan mood dalam cerita.

Kesepian, mungkin tidak ingin dirasakan semua orang. Dan bagaimana jika kesepian dirasakan di masa lalu, saat kita tidak bisa dengan mudah menemukan informasi atau meminta pertolongan cukup dengan menggunakan gadget kita? Orang-Orang Bloomington bisa membawa kita masuk ke dunia seperti itu, dan Saya sempat kesal, sedih, galau ketika berada di sana. Mungkin kesan Anda berbeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s