Have A Little Faith: Kisah Menakjubkan Tentang Kekuatan Iman

Processed with VSCO with hb1 preset

Aku menyumpahi Tuhan.

Karena bahkan di saat aku mengecam Tuhan pun, aku sadar ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada diriku sendiri. Dan dengan cara itulah aku mulai pulih.  – Albert Lewis

Awalnya saya agak ragu ketika memutuskan membaca buku ini, bahkan waktu itu alasan saya membelinya hanya karena buku ini ditulis oleh pengarang Tuesdays With Morrie (Selasa Bersama Morrie). Mitch Albom memang penulis yang menurut saya punya gaya penceritaan yang khas: ia membawa pembaca mengenal karakter secara mendalam, dan tanpa disadari kita akan hanyut dengan deskripsinya yang indah dan tidak dipaksakan. Saya tidak tahu, apakah memang karena orang-orang yang menjadi karakter utama dalam buku-bukunya memang benar-benar luar bisa, atau kemampuan Albom untuk menunjukkan sisi-sisi lain yang menakjubkan dari kehidupan orang-orang biasa.

Kembali ke topik utama buku ini, agama atau keyakinan, menurut saya adalah topik yang sangat sensitif. Saya sendiri bukan orang yang sangat religius, tapi, perlu dicatat – buku ini menceritakan kisah seorang imam Yahudi (rabi), Albert Lewis, yang tiba-tiba meminta Albom untuk membakan eulogi (ucapan atau tulisan yg memuji atau menghormati seseorang, terutama yg sudah meninggal dunia) pada acara pemakamannya. Permintaan ini membawa dia sering mengunjungi Albert, dan mengenal manusia pilihan Tuhan itu lebih dalam. Meskipun kisahnya fokus pada kehidupan Yahudi, tapi dikemas secara universal, sehingga siapapun bisa membaca, menikmati, dan belajar nilai-nilai yang menurut saya sangat bermanfaat, terutama terkait dengan iman dan bagaimana menjalani hidup.

Di dalam buku ini Albom juga menceritakan kisah Henry Covington, mantan pengedar narkoba yang mengaku dosa-dosanya mustahil diampuni Tuhan, meskipun ia telah mengabdi sebagai pastor di sebuah gereja kumuh selama bertahun-tahun. Saya sendiri menganggap kisah Henry sebagai pelengkap atau complimentary dari cerita soal iman, karena Albom ingin buku ini diterima secara universal. Sejujurnya, saya lebih menikmati kisah dari Albert Lewis, mungkin karena saya belum pernah membaca mengenai rabi Yahudi dan kisah-kisah pertobatan setelah melakukan kejahatan sudah sering saya dengar.

Namun, ada kutipan yang saya suka dari kisah Henry:

“Kurasa aku ditakdirkan untuk bekerja dengan orang-orang miskin.“

Tetapi Anda kan tidak harus meniru gaya hidup mereka.

“…Kau tidak dapat merintis jalan ke surga. Setiap kali kau mencoba dan membenarkan diri dengan berbagai pekerjaan, kau sedang membuat dirimu tak pantas ke sana. Apa yang kulakukan di sini, setiap hari, sepanjang hidupku, hanyalah caraku mengatakan, Tuhan, apa yang akan kualami di alam keabadian nanti, biarkan aku mengembalikan semuanya kepada-Mu. Aku tahu semua itu bahkan tak sepadan. Tetapi biarkan aku melakukan sesuatu dengan hidupku sebelum aku pergi…

Dan kemudian, Tuhan, aku menyerahkan diri pada belas kasihan-Mu.”

Dari kisah Albert Lewis, atau Reb (panggilan kehormatan dalam bahasa Ibrani), saya mencermati bahwa untuk menjadi pengkhotbah yang baik tidak melulu harus menggebu-gebu, namun dengan penyampaian yang santai dan selipan kelakar – ya saya juga baru tau seorang imam bisa berkelakar mengenai agama namun tidak kehilangan makna dan kekuatan iman dalam dirinya.

Tentunya Albert juga memiliki masa lalu yang menarik yang juga dibahas dengan apik oleh Albom. Tetapi yang saya paling suka ada lah konsep-konsep agama dan ketuhanan yang disampaikan olehnya, seperti berikut:

“Bagaimana Anda tahu bahwa Tuhan itu ada?”

“Pertama, buatlah kasus-kasus yang menunjukkan bahwa Dia tidak ada.

Dan, tak peduli seberapa jauh mereka mencoba cara yang sebaliknya – memperpanjang kehidupan, mengutak-atik gen, melakukan kloning pada ini dan itu, hidup hingga seratus lima puluh tahun – pada suatu tahap, hidup tetap saja berakhir. Lalu apa yang terjadi ketika kehidupan sudah berakhir?

Bila kau sudah sampai di akhir, di situlah Tuhan mulai.”

Intinya, Have a Little Faith bukan hanya soal bagaimana menjaga keimanan, tapi bagaimana menyadari bahwa Tuhan akan selalu ada bagi mereka yang percaya. Kita percaya tidak selalu di saat keinginan kita dikabulkan, namun saat kita merasa didengar Tuhan (meskipun Ia mengatakan tidak dan pasti mengganti dengan yang terbaik), sehingga kita semakin mensyukuri apa yang kita punya. Karena toh memiliki lebih banyak seringkali tidak menghentikan kita menginginkan lebih banyak lagi.

Jika kita mengurusi hal-hal yang penting dalam hidup, jika kita bersikap pantas terhadap orang-orang yang kita cintai, dan bertindak sejalan dengan keyakinan kita, hidup kita tidak akan didera oleh berbagai urusan yang tertunda. Kata-kata kita akan selalu tulus, pelukan kita akan selalu erat. Kita tidak akan pernah berkubang dalam derita penyesalan, ‘Mestinya aku bisa, mestinya aku sudah melakukannya.’ Sehingga kita bisa tidur pulas sewaktu ada badai.

Dan ketika tiba waktunya, salam perpisahan kita akan tuntas.

 

Data buku:

Judul bahasa Inggris: Have A Little Faith

Judul bahasa Indonesia: Sadarlah

Sub judul: Sebuah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup

Penulis: Mitch Albom

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s