Kau Bukan Segalanya

“Jika ciuman adalah air, maka yang kuberikan untukmu adalah lautan.”

Di bibirnya tersungging senyum bak bulan sabit, bercahaya sekaligus memabukkan.

“Hentikan, Robert. Aku kembali hanya ingin memberitahumu satu hal. Maafkan aku, kita tidak bisa bersama lagi,” ia kembali terlihat pucat. Aku tahu ia habis menangis.

“Kenapa? Bukankah kita sudah bersama selama lima tahun? Bahkan aku selalu menemanimu, dari bangun tidur, makan, ke sekolah, dan kembali ke peraduan. Kau selalu membutuhkanku, Bella, dan tak ada yang bisa menggantikanku,” ku tatap wajah cantiknya sambil memasang pose memelas. Aku tahu dia jatuh cinta padaku pertama kali karena mata biru dan bundar sempurna ini.

“Oh, please, jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku sedih. Aku benci ini. Bisakah kita berteman saja?” ia mulai terisak.

“Hei, jangan menangis, please, look at me, darling.” Matanya sembab, dan aku tahu ia cukup tertekan. Tapi bukankah kami memang tak terpisahkan? Lalu apa yang sebenarnya terjadi sekarang?

“Aku tahu ini berat bagimu. Berat juga bagiku. Tapi semua ini tak mungkin… Rob…”

“Ssssh… kau tahu aku selalu bisa diandalkan, bukan? Aku akan selalu disampingmu, walaupun dunia kita berbeda…”

“Tapi… aku sudah mulai dewasa… dan aku…”

“Hentikan, Bella.”

Ia terdiam. Dan aku merasa aku bisa mencerahkan mukanya kembali.

“Jangan sedih. Melihatmu seperti itu aku seperti melihat panti asuhan. Aku jadi ingin memberimu anak-anak yang lucu.”

Dan ia mulai tersenyum. Aku berhasil.

Tiba-tiba badanku terasa berserakan, dan rasanya sakit. Aku tercabik, dirobek, dan benar-benar dibuang ke tempat sampah.

“Sudah berkali-kali kubilang, hentikan membaca buku fantasi ini! Kau sudah dewasa, sayang,” seorang pemuda yang tak kalah tampan denganku berteriak padanya. Dan Bella hanya meraung, tidak rela aku dihancurkan.

“Sekarang, jika kau benar-benar mau pergi ke pesta dansa denganku, lakukan ini,” pemuda itu memberi sebuah korek api kepada Bella. Dan anehnya Bella mengangguk.

Stop Bella! Stop!

Aku terbakar. Aku tak tahu apakah ini api nyata, atau api cemburu. Terasa sakit luar biasa.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s