Menyelami Romantisnya Nescafe: Ada Cinta di Tiap Proses Pembuatannya

Hai, masih ingat aku pernah bilang, aku pilih kopi hitam — karena seperti musik, aku suka metal?

Memilih kopi itu, bagiku seperti memilih drama: dalam hidup ia dibutuhkan untuk membakar semangat, senjata ampuh yang membuatku antusias mengarungi jemunya rutinitas. Drama bisa saja palsu, penuh sensasi namun menggoda. Ia juga bisa meledak-ledak, membuatmu terombang-ambing hingga mati rasa.

Sebagai penggila kopi dan drama, aku sudah mengecap berbagai jenis dan rasa. Ketika mulai mencoba kopi pertama kali, aku pernah tertipu oleh kopi putih, yang katanya lebih ringan rasa kopinya dan aman bagi lambung. Ternyata itu hanya permainan menambah gula dan krim dalam kopi, yang sampai kiamat tidak akan pernah ada biji kopi yang dipanggang bisa menjadi putih. Kemudian aku mencoba berbagai macam kopi, dari kopi yang katanya “kopi luwak”, kopi hitam murah meriah tanpa tahu bijinya benar-benar pilihan atau murahan. Sampai akhirnya aku menemukan suatu produk kopi hitam Nescafe classic, yang aroma dan rasanya sempurna serta tanpa ampas.

Bentuknya beda dengan produk-produk kopi instan kebanyakan, bukan bubuk tapi gumpalan-gumpalan padat. Takarannya juga cukup kecil, hanya 2 gram atau satu sendok teh sudah cukup untuk membuat secangkir kopi nikmat. Serta sisa ampas yang selalu ada di kopi-kopi hitam yang aku pernah coba, tidak aku temui di kopi ini. Aku seperti menemukan drama yang tepat dalam kopi Nescafe: drama romantis. Ia menyegarkan sekaligus menenangkan, serta meninggalkan kemesraan tanpa perlu menodai bibir dengan ampas. Aku yakin pembuatnya benar-benar mencintai kopi, dan itu terasa di tiap resapan kopi Nescafe yang memenuhi lidahku.

Beberapa waktu lalu aku beruntung, bisa menyaksikan langsung bagaimana kopi romantis ini dibuat mulai dari pohon sampai pabriknya. Dan aku ingin berbagi kisah ini denganmu, dengan harapan ini bisa jadi salah satu momen romantis kita.

Bersama dengan sembilan pecinta kopi lainnya yang memenangkan kompetisi penulisan tentang kopi, kami diajak menuju Tanggamus, Lampung, letak kebun kopi dan pabrik Nescafe berada. Kebun kopi di Tanggamus merupakan pemasok bahan baku utama untuk Necafe, yaitu kopi robusta. Kopi robusta ini terkenal dengan wanginya yang seperti cokelat, kandungan kafeinnya yang tinggi, dan rasa lebih pahit ketimbang arabica yang aromanya seperti rempah dan rasa asamnya yang khas.

10427676_1018237684858687_2551891468206530435_n

Para Pecinta Kopi dan Tim Nescafe di Tanggamus

Kami mengawali perjalanan kami dari melihat bagaimana Nescafe memulai kopi dari penanaman bibit dengan mengunjungi Kebun Kopi di Tanggamus. Tidak main-main, di sini Nescafe membina sekitar 15.000 petani dan hingga 2014 telah membagikan 1,2 juta bibit kopi berkualitas. Melalui program Creating Shared Value yang disebut Nescafe Plan, para petani diberi edukasi bagaimana membudidayakan kopi untuk hasil yang maksimal. Nescafe Plan memiliki target membagikan 18 juta bibit pohon kopi hingga 2020 untuk keperluan peremajaan.

Kami disambut beberapa ahli perkebunan kopi “agronomis” yang memberikan edukasi kepada petani. Secara fisik, mereka tidak seperti orang-orang yang sehari-harinya bergelut dengan teriknya sinar mentari dan pengolahan tanah. Sehingga sebutan “agromanis” pun langsung tersemat kepada mereka.

Salah satu agromanis Nescafe bernama Adi, menjelaskan kepada kami bahwa Nescafe membeli biji kopi dari petani dengan marjin keuntungan yang tinggi berdasarkan kualitas. Para petani bahkan tidak diwajibkan menjual kopinya kepada Nescafe, mereka bisa menjualnya ke pihak lain jika dirasa lebih menguntungkan. Selain itu, Nescafe juga menciptakan kebun percontohan agar petani bisa mengerti dengan jelas bagaimana pengelolaan kebun kopi yang benar.

Kemudian kami mengunjungi Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tani di Tanggamus. Aku menyaksikan bagaimana para petani memasukkan bibit-bibit kopi yang sudah dipilih dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Nasional (Indonesian Coffe and Cocoa Research Institute/ICCRI) di Jember. Kemudian bagaimana mereka merawat pohon-pohon kopi dengan telaten. Intinya, pohon kopi bisa dipanen idealnya setelah dua tahun dan biasanya periode panen dari Bulan Mei-September.

Bagaimana Nescafe membagi rasa cinta kopi kepada petani terlihat dari salah satu contoh nyata dari pemimpin salah satu KUB yang cukup besar, bernama Pak Tono. Ia mengawali karirnya sebagai kurir pengiriman kopi hingga menjadi pemimpin KUB yang memproses 72-80 ton biji kopi per harinya.

Setelah dipanen, ternyata Nescafe juga memberikan standar untuk biji kopi yang layak diproses di pabrik. Metode seleksi ini disebut defect count, atau perhitungan biji cacat. Tujuannya agar rasa kopi bebas dari benda asing atau bahan kimia. Standar Nescafe adalah kadar air sebesar 12% dan defact (kecacatan) 80% di setiap biji kopi.

Kegiatan Petani di Kebun Kopi Tanggamus

Kegiatan Petani di Kebun Kopi Tanggamus

Setelah itu, kami mengunjungi pabrik Nescafe di daerah Panjang, Bandar Lampung. Pabrik ini sudah memiliki standar keamanan dan kebersihan level internasional, sehingga sudah tidak diragukan lagi bagaimana kualitas kopi yang dihasilkan di sini. Pak Budi, kepala pabrik yang menyambut kami, menjelaskan sistem keamanan pabrik yang berslogan “Safety Starts With Me.” Sehingga saat mengunjungi pabrik, kami harus memakai pakaian putih, penutup kepala dan sarung tangan, persis seperti dokter bedah spesialis “kopi.”

Pabrik Nescafe di Panjang, Bandar Lampung

Pabrik Nescafe di Panjang, Bandar Lampung

Mungkin akan butuh semalaman bagiku untuk bercerita bagaimana proses pembuatan kopi di pabrik ini. Satu hal yang membuatku terkesima adalah, bahwa penyaringan biji kopi tidak hanya dilakukan petani, tetapi di sini juga ada mesin yang memisahkan biji kopi dari benda-benda asing. Kemudian setelah biji kopi diolah dengan peralatan berteknologi mutakhir sampai berbentuk bubuk (granul), kopi Nescafe juga harus dicek dulu kualitasnya dengan coffee cupping (coffee tasting). Kami pun dipersilakan mencoba proses ini. Dari sini aku belajar, pembuatan kopi Nescafe tidak main-main karena harus dites dulu rasa dan aromanya oleh tim yang benar-benar ahli.

Meja Bundar Untuk Coffee Cupping

Meja Bundar Untuk Coffee Cupping

Yang lebih membuatku tercengang, ternyata kopi Nescafe classic yang nikmat itu bahan bakunya hanya dua: biji kopi dan air! Bahannya memang sederhana, tapi prosesnya benar-benar sempurna dengan melewati beberapa tahap: Sortir biji kopi, pemanggangan (roasting), penggilingan (grinding), ekstraksi (pembuangan ampas), pengentalan, pengeringan, dan yang terakhir pemberian aroma dengan teknologi Enhanced Recovery Aroma (ERA), yaitu teknologi yang dipatenkan dan dikembangkan oleh Nestle sendiri. Oh ya, tidak hanya Nescafe Classic yang diproduksi di sini, tetapi juga Nescafe varian lain termasuk 3 ini 1 yang dibut dari biji kopi, air dan ditambah gula dan krim.

Mengetahui dan menyaksikan begitu panjangnya proses yang dibutuhkan untuk menciptakan kopi Nescafe, membuatku semakin cinta. Aku bersyukur bisa mendapatkan kopi yang sesuai dengan drama hidupku, romantis. Hitam pekat menggoda dengan aroma berkelas yang membekas tanpa ampas.

Mungkin jika kau ingin tahu lebih lanjut tentang bagaimana memilih kopi, kita bisa ngobrol sambil duduk-duduk santai (tentu saja, tanpa sepengetahuan pacarmu). Sambil menikmati beberapa varian Nescafe yang aku yakin, dibalik proses pembuatannya yang rumit, rasa dan aromanya pasti akan membuatmu mencintainya dengan sederhana. Sesederhana diriku yang selalu terbayang bekas kopi yang menempel di bibirmu yang bergincu merah, di pagi buta itu.

Dari Kopi Hitam, kepada Permen Kayu Manis yang jelita dan berbahaya.

(Blogpost ini merupakan lanjutan dari Kisah #DiBalikSecangkirKopi yang saya tulis: Moaning Coffee | Sumber gambar: pribadi dan Facebook Nescafe)

Twitter: @medysofyan

Facebook: Muhammad Edy Sofyan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s