Review TED Talk “Suzanne Talhouk: Don’t kill your language”

 

“Saya sangat jengkel karena saya kehilangan hak berbicara menggunakan bahasa ibu di negara saya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

Pernyataan di atas adalah sedikit kutipan dari pidato yang disampaikan Suzanne Talhouk, seorang pemerhati Bahasa Arab dari Libanon, dalam acara TEDx Beirut beberapa waktu lalu. Bagi yang belum tahu, pidato Suzanne ini bisa dilihat di situs TED.com, sebuah situs nirlaba yang menampilkan ide-ide yang bermanfaat untuk dibagikan ke dunia. TED sendiri merupakan singkatan dari Technology, Entertainment, dan Design. TED sering menyelengarakan acara-acara pertukaran ide-ide dan pengetahuan dari pesertanya, dan biasanya menghadirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Bill Gates dan Sheryl Sandberg. Banyak sekali informasi atau ide menarik yang bisa menambah wawasan kita di TED, dan saya sangat merekomendasikan Anda menyisihkan waktu berselancar di Internet untuk mengakses situs ini.

Kembali ke pidato dari Suzanne Talhouk, yang menurut saya sangat menarik, karena apa yang ia presentasikan adalah fenomena yang tidak hanya terjadi di negaranya, Libanon, tapi juga terjadi di berbagai negara lain termasuk Indonesia. ‘Kehilangan hak menggunakan bahasa Ibu’ memang sepertinya tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut, karena saat ini Bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional semakin banyak dipelajari dan menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi kehidupan kita. Berbagai perusahaan ternama mewajibkan kemampuan berbahasa Inggris sebagai syarat melamar pekerjaan, banyak sekali kesempatan untuk menepuh pendidikan di luar negeri dan menguasai bahasa Inggris adalah kunci untuk meraihnya. Bahkan sekarang mulai menjamur sekolah Internasional yang semua kegiatan mengajar dan belajarnya menggunakan bahasa Inggris.

Menguasai bahasa Inggris memang sangat diperlukan terutama karena akses untuk berinteraksi dengan dunia Internasional semakin besar seiring dengan kemajuan teknologi terutama Internet. Namun terkadang maraknya penggunaan bahasa Inggris membuat sebagian orang melupakan bahasa ibu mereka dan cenderung mencampurkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, misalnya. Saya tidak ada masalah dengan bahasa yang dicampur-campur, yang penting penggunanya nyaman, dicepol atau tidak (kok jadi seperti Ibu Negara, hehe). Namun yang menjadi masalah adalah jika seseorang menggunakan bahasa inggris di tempat yang tidak selayaknya, atau seseorang yang menilai orang lain hanya semata dari kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Menggunakan Bahasa Inggris memang bisa membuat orang tertarik dengan kita dan menganggap kita orang yang intelek, tetapi kalau tidak tau tempat dan waktu penggunaanya bisa jadi kebablasan seperti contoh di bawah ini:
“Well, gue prefer film yang kemaren sih, which is lebih light, lebih banyak action. Yang hari ini agak complicated dan boring” –Seorang teman yang sering mengejek gaya bicara Cinta Laura.
“Wagyunya juicy and tender, pastanya creamy. Even kentangnya digoreng sampai crispy dan ditaburi grated cheese. Overall, sangat recommended dan worth it. Must try!” –Seorang pengamat restoran menulis di blognya.
“Gue menyadari bahwa sometimes, kesendirian itu penting. Somehow itu bisa me-lead gue untuk lebih aware akan sekeliling gue, dan membuat gue lebih improve juga ketika acting” –seorang aktor terkenal berbicara dalam sebuah wawancara radio.

Contoh-contoh di atas adalah penggunaan bahasa Inggris yang salah kaprah yang saya ambil dari opini Tiza Mafira di Jakarta Globe Blog. Intinya adalah tidak ada yang salah dengan menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari namun gunakanlah satu bahasa dalam satu kalimat, jangan dicampur-campur sehingga orang lain sulit menangkap makna dari ucapan kita — sekali lagi bukan karena mereka tidak mengerti bahasa Inggris tapi penggunaannya yang tidak tepat.

Suzanne juga menyampaikan satu poin yang penting tentang bahasa, yaitu bahwa bahasa merepresentasikan tingkatan yang spesifik dalam hidup kita dan terminologi yang terhubung dengan emosi. Jika saya berkata, “I am a wild animal, cuts from its kind,” mungkin sebagian orang tidak langsung terhubung dengan makna kata-kata saya, tetapi jika saya berkata “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya orang-orang terbuang,” pasti Anda langsung membayangkan puisi indah yang pertama kali Anda baca atau dengar di pelajaran Bahasa Indonesia: “Aku” karya Chairil Anwar.

Seperti yang Suzanne katakan, dia tidak ingin melupakan semua kenangan, budaya dan intelektual yang dia dapatkan saat kecil yang tentunya semua itu pertama kali didapatkannya dalam bahasa Arab. Begitu juga saya, sebisa mungkin saya ingin menjaga keindahan puisi, cerita ataupun nyanyian dalam Bahasa Indonesia, agar tidak tergerus oleh Bahasa Inggris dan membuat generasi muda masa depan juga bisa menikmatinya.

“Jika Anda ingin memusnahkan suatu negara, hanya ada satu cara untuk melakukannya, yaitu memusnahkan bahasa mereka,” kata Suzanne. “Ini adalah realitas yang dikhawatirkan oleh Negara-negara maju. Jerman, Prancis, Jepang dan China, sangat sadar akan ancaman kehilangan bahasa negara mereka, sehingga mereka membuat undang-undang untuk melindungi bahasa dan membuatnya suci, tak boleh dinodai. Karena itu mereka menghabiskan banyak uang untuk mengembangkan bahasa mereka sendiri.”

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan bahasa adalah melalui budaya. Bisa kita lihat bahwa Jepang atau Korea memproduksi film, drama dan lagu dengan bahasa mereka, serta mempromosikannya dengan sebaik-baiknya. Alhasil sekarang banyak sekali orang di berbagai belahan dunia mempelajari bahasa Jepang atau Korea. Mungkin jika bahasa Indonesia sudah populer seperti Jepang atau Korea, tidak akan ada orang Indonesia yang malu atau enggan berbahasa Indonesia di negara mereka sendiri.

Bahasa adalah aset dan identitas bangsa yang tidak hanya harus dilestarikan, tapi juga dikembangkan agar tidak kalah populer dengan Bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Mari kita berkarya, entah itu dengan menulis cerita, buku, film, lagu atau apapun, dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dan jika di masa depan saya berucap “Kulari ke hutan kemudian menyanyiku. Kulari ke pantai kemudian teriakku,” saya harap siapapun orang Indonesia yang mendengarnya bisa membayangkan sebuah film yang membuat para remaja berbondong-bondong ke perpustakaan untuk membaca buku-buku Sastra Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s