Suatu Malam di Manhattan #30harilagukubercerita

Song: And I am Telling You (I’m not Going) by Jennifer Holiday

Image

Dinginnya udara Manhattan berbanding terbalik dengan panasnya hatiku karena perpisahan. Mala mini tata cahaya di seantero kota begitu romantis. Lampu-lampu jalan dengan bohlam warna-warni menyala fantastis, sangat kontras dengan perasaanku yang miris. And here I am asking, Why you’d hurt me like this?

Sepuluh bulan kita yang begitu sempurna, Ashton. Weekends yang selalu kita habiskan bersama. Kau yang bersahaja, aku yang penuh drama. Aku yang mencintai tarian hip-hop dan umpatan dalam lagu rap, sementara kau yang hobi membaca literatur Inggris dan jago menirukan aksen british yang seksi. Kau membuka matakau tentang dunia, kau pria berkulit putih pertama yang membuat wanita kulit hitam sepertiku merasa sangat berharga.

Kenangan tentangmu semakin jelas ketika langkahku terhenti di Central Park. Tempat ini bagai memproyeksikan kepingan kebersamaan yang telah kita jalani. Di sini kau menemukanku, kemudian mempesonakan inderaku. Rerumputan yang bergoyang ditiup angin seolah memperlihatkan sisa-sisa piknik kita, ciuman, pelukan, bahkan pertengkaran kita disini.

Dan di tempat ini juga kau bertemu dengan Rachel, gadis kulit putih yang mengalihkanmu dariku. Dia bak Putri salju, katamu, sementara aku adalah Sang Ratu Jahat, dalam rupa penyamaran nenek kulit hitam yang membawa apel beracun. Kau berpaling dan menyatakan cinta padanya di Bow Bridge, jembatan yang melintang di atas Danau Central Park. Cintamu berbalas, dan kau lupa segalanya tentang kita. Kau yang dulu kujuluki Ashton the angel from London, sekarang berubah menjadi Ashton, the Asshole who I wanna kick out of town.

Sesungguhnya, Ashton, aku tak ingin berada disini, menambah sesak dadaku saja. Mataku telah sembab, hidungku basah, bibirku mengering, kulitku menggigil kedinginan. Tapi sebaiknya kulengkapkan pembantaian seluruh inderaku oleh kenanganmu. Kupasang headphones-ku, memutar lagu sakit hatiku. Biar kulepaskan semua perih disini.

And I am tellin’ you I’m not goin’

You’re best man I’ve ever known

There’s no way I can ever go

No, no, there’s no way

No, no, no, no, way
I’m not livin’ without you

I’m not livin’ without you

I don’t wanna be free

I’m stayin’, I’m stayin’

And you, and you

You’re gonna love me

 

Aneh. Setelah mendengar lagu ini api dihatiku malah membiru, menyala kuat dan menggebu-gebu. No way, no way I’m livin without you, you asshole. I’m stayin’, and I will make you love me again.

Aku berlari menuju rumahmu, tak peduli ini tengah malam dan sebentar lagi jam satu. Walaupun mungkin Rachel sedang bersamamu, aku akan tetap mendapatkanmu kembali. I want my man. I want you back!

Ibumu terkejut mendapati aku menggedor pintu rumahmu.

Little girl, what are you doing here? It’s mid night,” tanyanya.

“Aku ingin bertemu Ashton. Aku mencintainya, Aku ingin dia kembali ke pelukanku,” jawabku terengah.

Mata ibumu terbelalak. “Cinta? Tapi kau masih kelas nol besar di Taman Kanak-kanak, little girl. Apa kau teman sekelasnya Ashton? Lebih baik aku mengantarmu pulang. Besok kau harus sekolah, kan?”

“No!” teriakku. “You don’t understand! Aku mau Ashton! Kau orang dewasa tidak akan mengerti! Di matamu  aku dan Ashton hanya makhluk naïf dan polos! Tapi kami lebih mengerti cara mencintai daripada kau!”

Ibumu sepertinya tak mampu berkata-kata, hanya terpana, sampai kemudian pintu kamar tidurmu terbuka. Ku harap itu kau, Ashton. Wajah putih itu, wait… Kau lebih tampan ketika bangun tidur. Tapi, kau juga lebih tinggi. Dan darimana kau dapatkan sixpack di perutmu itu? Serta tonjolan besar di celana pendekmu…

“Ada apa, honey?” suara berat itu, bukan suaramu. Makhluk kekar yang berdiri di depanku ini pasti… ayahmu.

“Hey, kamu temannya Ashton, ya? Ngapain tengah malam begini ada disini?” dan suara berat itu membelai telingaku lagi. Tubuh kekar itu menawan kedua mataku. Bibirku berbisik lirih, how sexy he is…

“Iya honey, dia teman sekelas Ashton. Sebaiknya kita mengantarnya pulang. Mungkin orangtuanya sedang cemas mencarinya…” Sementara ibumu berbicara pada ayahmu, aku terus memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Dia mirip denganmu, dan lebih indah darimu, Ashton.

“Om, tante, bolehkah saya menginap disini?” dan aku mengatakannya, sambil terus memaku pandanganku ke ayahmu. “Rumah saya lumayan jauh, dan saya kedinginan…” dengan lembut aku berpura-pura terpejam, menjatuhkan tubuhku tepat ke arah ayahmu, dan merasakan hangatnya dekapan tangan kekarnya. Oh, aku memang anak kecil yang tahu cara mencintai. Atau mungkinkah ini nafsu birahi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s