THANKS GOD I’M FREAK :D

Ketika saya menulis cerita ini, di langit-langit imaji saya, berkelebat banyak kenangan. Namun yang bisa diproyeksikan otak saya pertama kali adalah masa kecil saya yang lumayan indah. Peluk dan kecup Mamak tercinta di ulang tahun saya yang kelima, my first birthday party that i remember till now, kaki kecil saya yang berlari, menari menerjang pematang sawah Nenek. Masih saya ingat lembutnya lumpur yang membelai telapak kaki ini. Kemudian tangisan saya ketika Nelly, pacar masa kecil saya mencakar hidung saya sampai berdarah, dan saya menjadi bahan tertawaan seluruh sekolah. But I was happy.

Kemudian gelap. Dan sekejap mata, tampak saya yang sedang antusias memperhatikan dengan serius pembahasan guru SMA saya tentang universitas ternama di Pulau Jawa, teriakan bahagia saya ketika lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru… but wait… did I miss something?

Saya mencoba me-rewind mesin proyektor mata, mungkin ada bagian yang terlewat. ternyata memang ada bagian yang agak error, tapi tak bisa di “cut”. Terpejam saya sejenak, mencoba merefresh video yang terlewati, menekan tombol play di screen berjudul “SMP”. Dan di layar hanya muncul satu kata: BULLIED.

Entah kenapa Lady Gaga muncul, dengan busana dari puntung rokok. Ia berkata: “Menjadi korban bully di masa remaja seperti punya luka bakar yang terus membekas seperti tatto (I’m just improvising). Bahkan ketika kalian semua, hai para little monster memuji dan mengelu-elukanku, setiap aku terbangun di pagi hari, aku masih teringat tentang pengalaman itu… dan merasa tak berharga sama sekali.”

Image

Saya mungkin ingin diperhatikan, saat saya memutuskan menulis ini di blog saya. Tapi saya hanya ingin jujur bahwa menjadi korban bully adalah predikat yang akan melekat selama saya hidup, dan sering membuat saya trauma untuk bersosialisasi dan berkembang. Tapi seseorang telah menyadarkan saya malam ini, bahwa hidup harus terus berjalan, manusia harus terus berkarya dan menjadi manfaat bagi dirinya dan orang lain. Dan mungkin orang lain malah menganggap trauma yang saya rasakan menjadi sebuah bentuk kesombongan. No, I won’t let that happen anymore.

Hhhh… tarik napas, hembus pelan-pelan… Thanks God I’m freak, and I can breathe the fresh air. Saya merasa lega telah menuliskan ini. Everybody’s hurt, and I’m proudly sayin’ taht I’ve been bullied. LEbih baik menjadi korban bully yang happy, daripada si sombong yang dengki hati. Am I right, Gaga? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s